Inspiring the World

Eka Maulana, ST., MT., M.Eng

Menuju UB Mandiri Energi

Melalui penelitian yang dilakukan oleh empat dosen Jurusan Teknik Elektro ini, misi Universitas Brawijaya (UB) untuk menjadi kampus mandiri energi dapat terwujud.

Saat ini, tim peneliti yang terdiri dari Dr. Ir. Sholeh Hadi Pramono, MS., Hadi Suyono, ST., MT., Ph.D., Akhmad Zainuri, ST., MT., dan Eka Maulana, ST., M.Eng., tengah membangun konsep dan riset untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh akhir tahun 2014, biaya konsumsi listrik UB memakan kurang lebih Rp. 700 juta per bulan. Hal ini sama dengan dana yang dibutuhkan untuk memenuhi 1/3 kebutuhan Penerangan Jalan Umum di Kota Malang.

Dari hasil kajian tim peneliti, terdapat 3 konsep yang terabaikan dalam pemasangan jaringan listrik UB sehingga menyebabkan pemborosan energi. Hal ini meliputi penggunaan energi, distribusi, dan pembangkitan listrik.

“Dari segi penggunaan energi, baik untuk penggunaan laboratorium, keperluan penerangan, maupun kegiatan administrasi, masing-masing ada losses tenaga listriknya,” ujar salah satu anggota tim peneliti Eka Maulana, di laboratorium Proses Jurusan Teknik Elektro, Kamis (17/Okt/2015).

Dosen asli Blitar ini mencontohkan, beban lampu penerangan jalan UB memakai lampu konvensional yang memakan daya besar. Seharusnya beban tersebut dapat diganti dengan lampu LED atau beban lampu DC.

Kemudian untuk sistem distribusi listrik skala kecil, lanjut Eka, cukup menggunakan sistem distribusi Direct Current (DC). Karena losses pada trafo step up dan step down sistem jaringan Alternating Current (AC) cukup besar dan lebih cocok untuk transmisi jarak jauh. “Efisiensi bisa hilang 20 % hingga 30 %,” jelasnya.

Sementara dari segi pembangkitan listrik, UB hanya mengandalkan sumber listrik dari PLN. Untuk sebagian jurusan atau program studi bahkan belum mempersiapkan sumber energi listrik cadangan semacam genset apabila terjadi pemadaman listrik.

Maka dari itu, tim peneliti menawarkan solusi berupa sistem yang dinamakan Micro Smart Grid Technology Design. Konsep ini menawarkan bagaimana masing-masing gedung di UB punya sumber tenaga listrik mandiri.

“Bahkan lahan kosong bisa diatur sebagai lahan solar sell organik. Potensi tenaga surya di Indonesia rata-rata 4,8 kW per meter persegi per hari harus dimaksimalkan,” tukasnya.

Dengan sistem ini, energi matahari akan ditangkap dan dikonversi menjadi energi listrik. Energi ini sebagian digunakan untuk menghidupi jaringan listrik lokal dan sebagian digunakan untuk beban bersama.

Eka menjelaskan, sistem ini menggunakan tegangan DC rendah. Namun, bila terdapat beban yang membutuhkan tegangan AC, tegangan DC tersebut dapat dikonversi ke tegangan AC menggunakan perangkat inverter.

Sistem ini juga dilengkapi dengan kontrol manajemen energi dan volt detection untuk mendeteksi malfungsi pada jaringan listrik. Lebih lanjut, bila terjadi malfungsi pada jaringan listrik, maka terdapat sistem proteksi yang melindungi grid-grid yang lain atau jaringan lisrik secara keseluruhan.

“Jaringan listrik juga dimonitor menggunakan komputer untuk mengamati kebutuhan beban atau kontrol manajemen energi,” tambah alumni Jurusan Teknik Elektro UB itu.

Untuk riset tahap pertama, tim peneliti menargetkan dalam tiga tahun pertama plant di Jurusan Teknik Elektro sebagai lokasi uji coba dapat terpenuhi kebutuhan listrik dasar sebesar 2 kW atau 2 KVA per hari.

Kemudian, bila diterapkan ke UB secara keseluruhan, maka tim peneliti memperkirakan modal yang akan ditanamkan akan mencapai Break Event Point (BEP) dalam waktu 7 tahun.

“Butuh investor atau sponsor dan dukungan kebijakan. Bila kita melihat di kampus-kampus Jepang, pemerintah ikut andil dalam memberikan subsidi,” pungkas alumni program double degree UB-Miyazaki University tersebut. (and)

 

Sumber: AntaraJatim.com

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*