Inspiring the World

Eka Maulana, ST., MT., M.Eng

Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat internasional. Kali ini tim yang terdiri dari Cindy Mutiara Septani (Teknik Kimia), Hermantoro Wahyu Pradana (Teknik Mesin), Sandy Pradita Hadi Utama (Teknik Mesin), Mariatul Khiftiyah (Teknik Kimia), dan Rahmat Khoirul Huda (Arsitektur) mejadi juara IIAmerican Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers (ASHRAE) Student Design Project Competition Applied Engineer 2014.

desain dunia liputan 6 siang

Liputan 6 siang SCTV, 31 Januari 2015

Dua ribu proposal dari lima negara berlomba menciptakan sistem bangunan beserta teknologinya yang memiliki efisiensi energi, Indoor Air Quality (IAQ), sistem refrigerasi, dan sistem keberlanjutan dalam bidang industrialisasi teknologi yang inovatif dan kreatif dalam kompetisi ini. Pemenang lomba diwajibkan menampilkan karya mereka dalam konferensi yang diadakan di Chicago, Illnois, Amerika Serikat, pada 24-28 Januari 2015. Keluar sebagai juara I adalah California Polytechnic State University San Luis Obispo (Amerika Serikat) dan juara III adalah SUNY Buffalo State College (Amerika Serikat).

Menurut ketua tim Rahmat Choirul Huda, tim membuat desain integrated building yang dapat memberikan kenyamanan optimal dengan pengeluaran cost yang minimal mengaplikasikan teknologi yang sudah ada. “Jadi lebih ke alat yaitu AC (Air Conditioner) danBiomass Combustion Device yang disesuaikan dengan kondisi negara masing-masing,” kata Rahmat.

Rahmat mengklaim teknologi yang dirancang tim FTUB mampu meningkatkan IAQ (Indoor Air Quality) dari sistem bangunan masyarakat Indonesia dan mengurangi polusi udara serendah mungkin. IAQ merupakan salah satu hal yang mempengaruhi kenyamanan dan kesehatan dari manusia yang menempati suatu bangunan. “Kami membuatnya sesuai dengan kondisi kebutuhan iklim di Indonesia, dan tiap penilaian itu berdasarkan  pada kesesuaian di tempat alat itu akan digunakan,” jelas Rahmat.

Dalam desainnya tim dengan jeli melihat kebutuhan masing- masing ruang dan memberikan perlakuan khusus. Misalnya, dalam hal arsitektur, pada ruang yang memungkinkan memiliki jendela di kedua sisi, Tim mendesain sistem bangunan pasif berupa pengudaraan silang melalui desain jendela khusus yang membuat pertukaran udara terjadi secara natural sehingga menurunkan suhu ruangan. Pada ruangan yang terpapar langsung sinar matahari, desain jendela dibuat spesifik sehingga paparan sinar matahari tidak masuk dan meningkatkan suhu ruangan.

Dalam hal elektronik dan mekanik, tim bahkan mendesain sendiri AC (Air Conditioner) dan Kompor berbahan bakar limbah agar mencapai level energy rendah seperti yang dikonsepkan. Penggunaan AC ini ditempatkan pada ruangan yang hanya memiliki jendela pada 1 sisi dengan demikian AC tidak harus digunakan di seluruh ruang. Sedangkan cerobong udara yang ditempatkan di atas kompor memungkinkan panas yang dihasilkan didalam ruangan dialirkan keluar. Hal ini membuat bangunan ini masuk ke kategori bangunan pintar dimana sistemnya secara mandiri dan hemat energi dapat mengatur kenyamanan suhu bagi penggunanya.

“Mungkin untuk kedepan kami belum merencanakan dengan rigid, tapi harapannya bisa kami gunakan untuk penelitian kembali dan bisa diangkat menjadi jurnal,” pungkas Rahmat.(and/emis)

Sumber: FT-UB

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

CAPTCHA Image
*